muhamad yusuf. Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

RSS

TUGAS IPS


Faktor-faktor Penyebab Keberagaman Budaya

Masyarakat Indonesia terdiri dari ratusan suku bangsa yang tersebar di lebih dari 13 ribu pulau. Setiap suku bangsa memiliki identitas sosial, politik, dan budaya yang berbeda-beda, seperti bahasa yang berbeda, adat istiadat serta tradisi, sistem kepercayaan, dan sebagainya.


Ciri keragaman kebudayaan lokal di Indonesia dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut:
1.   Keragaman suku bangsa
Dari ilmu antropologi diketahui bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunani, Cina Selatan.
Antara tahun 3.000 – 500 SM Indonesia telah dihuni oleh penduduk migran submongoloid dari Asia yang kemudian bercampur dengan penduduk indigenous/ pribumi dan indo-arian dari Asia Selatan.
Klasifikasi suku di Indonesia menurut Van Vollenhoven yang membagi Indonesia ke dalam 19 daerah suku bangsa, yaitu:
1)       Aceh
2)       Gayo-alas dan Batak
          Nias dan Batu
3)       Minangkabau,Mentawai
4)       Sumatra Selatan
5)       Melayu
6)       Bangka dan Belitung
7)       Kalimantan
8)       Minahasa
          Sangir-Talaud
9)       Gorontalo
10)     Toraja
11)     Sulawesi Selatan
12)     Ternate
13)     Ambon
          Kepulauan Barat Daya
14)     Irian
15)     Timor
16)     Bali dan Lombok
17)     Jawa Tengah dan Jawa Timur
18)     Surakarta dan Yogyakarta
19)     Jawa Barat

2.   Keberagaman bahasa
     Indonesia termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia (Australia-Asia). Gorys Keraf membagi            rumpun bahasa ini ke dalam subrumpun:
1)       Bahasa-bahasa Austronesia Barat atau Bahasa-bahasa Indonesia/ Melayu yang meliputi:
       §  Bahasa-bahasa Hesperonesia (Indonesia Barat) yang meliputi: bahasa Minahasa, Aceh, gayo, Batak, Minangkabau, Melayu, Melayu Tengah, Lampung, Nias, Mentawai, Jawa, Sunda, Madura, Dayak, Bali Sasak, Gorontalo, Toraja, Bugis-Makasar, Bima, Manggarai, Sumba, Sabu.
     §  Bahasa-bahasa Indonesia Timur yang meliputi: bahasa Timor-Ambon, Sula Bacan,    Halmahera Selatan-Irian Barat.
2)       Bahasa-bahasa Austronesia Timur atau Polinesia yang meliputi:
          §  Bahasa-bahasa Melanesia (Melanesia dan Pantai Timur Irian)
Melanesia (dari bahasa Yunani "pulau hitam") adalah sebuah wilayah yang memanjang dari Pasifik barat sampai ke Laut Arafura, utara dan timur laut Australia.
          §  Bahasa-bahasa Heonesia (Bahasa Polinesia dan Mokronesia)
3.   Keberagaman religi
    Indonesia memiliki keberagaman agama atau kepercayaan. Di Indonesia terdapat enam agama yang diakui secara resmi oleh negara yaitu: Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha dan Konghucu. Selain itu berkembang pula kepercayaan-kepercayaan lain di massyarakat.
4.   Keberagaman seni dan budaya
     Suku bangsa yang beragam di Indonesia tentu menghasilkan kebudayaan yang beragam pula. Salah satu wujud itu adalah kesenian, baik seni sastra, seni tari, seni musik, seni drama, seni rupa dan sebagainya.
Manfaat Keberagaman Budaya
Keberagaman budaya memberikan manfaat bagi bangsa kita. Dalam bidang bahasa, kebudayaan daerah yang berwujud dalam bahasa daerah dapat memperkaya perbedaharaan istilah dalam bahasa Indonesia. Sementara itu, dalam bidang pariwisata, potensi keberagaman budaya dapat dijadikan objek dan tujuan pariwisata di Indonesia yang bisa mendatangkan devisa. Pemikiran yang timbul dari sumber daya manusia di masing-masing daerah dapat pula dijadikan acuan bagi pembangunan nasional.
Masalah Akibat Keberagaman Budaya
Mengatur dan mengurus sejumlah orang yang sama ciri-ciri, kehendak, dan adat istiadatnya tentunya lebih mudah daripada mengurus sejumlah orang yang semuanya berbeda-beda mengenai hal-hal tersebut.
Gagasan yang menarik untuk diangkat mengatasi/ mengikis kesalahpahaman dan membangun benteng saling pengertian adalah dengan multikulturalisme dan sikap toleransi serta empati.
1)   Multikulturalisme
     Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.
Didalam multikulturalisme masyarakat diminta untuk melihat dan menyikapi perbedaan, multikulturalisme juga mengajak masyarakat untuk melihat keragaman budaya dalam kacamata kesederajatan maksudnya tidak ada budaya yang lebih tinggi daripada budaya lain. Didalam multikulturalisme juga tidak boleh ada diskriminasi terhadap suatu komunitas suku bangsa tertentu karena hal itu akan menjadi benih perpecahan dan konflik. Semua suku bangsa harus diperlakukan sama dan dilibatkan dalam berbagai aspek kebangsaan baik sosial, politik, hukum, maupun pertahanan dan keamanan. Hanya dengan cara demikian seluruh potensi suku bangsa akan bahu-membahu membangun perdapan bangsanya yang lebih baik.
2)   Toleransi dan empati
        Sikap toleransi berarti sikap yang rela menerima dan menghargai perbedaan dengan orang atau kelompok lain.
Empati adalah sikap yang secara ikhlas mau merasakan pikiran dan perasaan orang lain.
Sikap toleran dan empati ini sangat penting ditumbuhkembangkan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk seperti di Indonesia.
Cara pikir seperti ini akan membawa kita pada sikap dan tindakan untuk tidak memperuncing perbedaan, tetapi mencari nilai-nilai universal yang dapat mempersatukan.
Integrasi Nasional
Integrasi artinya pembauran hingga menjadi satu kesatuan yang utuh atau bulat. Integrasi bisa terjadi secara horisontal dengan pihak yang sederajat, ataupun secara vertikal.
Pendapat para ahli mengenai integrasi nasional:
1.    Higgins
      Memahami integrasi nasional dengan melihat proses penyatuan kelompok budaya dan sosial pada satu kesatuan wilayah dan identitas nasional.
2.    Dr. Nazaruddin Sjamsuddin
      Proses penyatuan suatu bangsa yang mencakup semua aspek kehidupannya, yaitu aspek sosial, politik, ekonomi dan budaya.
3.    J. Soedjati Djiwandono
        Cara bagaimana kelestarian persatuan nasional dalam arti luas dapat didamaikan dengan hak menentukan nasib sendiri. Hak tersebut perlu dibatasi pada suatu taraf tertentu. Bila tidak, persatuan nasional akan dibahayakan.
Faktor-faktor yang memengaruhi integrasi nasional:
1.    Homogenitas kelompok
        Pada kelompok yang kecil biasanya tingkat kemajemukannya juga relatif kecil, sehingga akan mempercepat proses integrasi nasional.
2.    Mobilitas geografis
    Faktor geografis memengaruhi efektifitas dan efesiensi komunikasi. Komunikasi yang berlangsung di dalam masyarakat akan mempercepat integrasi nasional.
Kata kunci dalam mencapai integrasi nasional adalah dengan menjaga keselarasan antarbudaya.
Peranan pemerintah
1.    Pemerintah harus mampu melaksanakan sebuah sistem politik nasional yang dapat    mengakomodasikan aspirasi masyarakat yang memiliki kebudayaan yang berbeda-beda.
2.    Kemampuan desentralisasi pemerintah yang diwujudkan dalam agenda otonomi daerah.
3.    Keterbukaan dan demokratisasi yang bertumpu pada kesamaan hak dan kewajiban warga  negara.

Peranan masyarakat
1.    Meminimalkan perbedaan yang ada dan berpijak pada kesamaan-kesamaan yang dimiliki oleh  setiap budaya daerah.
2.    Meminimalkan setiap potensi konflik yang ada.


 A. Konsep Keberagaman Budaya

Sebelum membahas tentang keberagaman budaya terlebih dahulu
harus dipahami tentang konsep-konsep yang berkaitan dengan
kebudayaan agar lebih mudah dalam memahami konsep tentang
keberagaman budaya. Di dalam antropologi, terdapat konsep belajar
mengenai kebudayaan sebagai hasil karya manusia. Kebudayaan
merupakan segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara
sosial oleh manusia. Seiring dengan perjalanan sejarah, kebudayaan
berkembang sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

1. Konsep Masyarakat Majemuk
Ciri masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang
memiliki keanekaragaman budaya yang tinggi. Menurut Furnivall,
masyarakat majemuk (plural society) merupakan suatu masyarakat
yang terdiri atas dua atau lebih elemen dan tatanan sosial yang hidup
berdampingan, tetapi tidak terintegrasi dalam satu kesatuan politik.
Menurut Clifford Geertz, meskipun masyarakat Indonesia telah
terbentuk sejak tahun 1945 dengan sistem sosial masyarakat yang
bersifat multietnik, multiagama, multibahasa, dan multiras
cenderung tidak banyak berubah dan sulit terintegrasi.
Berdasarkan struktur sosialnya, di dalam masyarakat Indonesia
terdapat banyak perbedaan budaya dan adat istiadat antarsuku
bangsa di Indonesia. Di berbagai daerah dapat ditemukan
keanekaragaman suku bangsa dan agama. Misalnya, suku bangsa
24 Khazanah Antropologi SMA 1
Aceh yang mayoritas beragama Islam, suku bangsa Batak yang
mayoritas beragama Kristen, suku bangsa Minangkabau di Sumatra
Barat, dan suku bangsa Melayu di Sumatra Selatan yang mayoritas
beragama Islam. Selain itu, di Jawa terdapat suku Sunda yang
menggunakan bahasa Sunda dan suku bangsa Jawa yang
menggunakan bahasa Jawa.

2. Ciri-Ciri Masyarakat Majemuk
Ciri-ciri masyarakat majemuk menurut Van de Berg adalah
sebagai berikut.
a. Terintegrasinya masyarakat ke dalam kelompok-kelompok
sosial yang memiliki ciri khas budaya yang berbeda satu sama
lain.
b. Adanya lembaga-lembaga sosial yang saling tergantung satu
sama lain karena adanya tingkat perbedaan budaya yang tinggi.
c. Kurang mengembangkan konsensus di antara para anggota
masyarakat tentang nilai-nilai sosial yang bersifat dasar.
d. Kecenderungan terjadinya konflik lebih besar di antara kelompok
satu dengan yang lain.
e. Integrasi sosial tumbuh di antara kelompok sosial yang satu
dengan yang lain.
f. Adanya kekuasaan politik oleh suatu kelompok atas kelompok
yang lain.
Suku bangsa adalah golongan sosial yang dibedakan dari
golongan sosial lainnya karena mempunyai ciri-ciri paling mendasar
dan umum berkaitan dengan asal-usul dan tempat asal serta
kebudayaan
. Adapun ciri-ciri suku bangsa, antara lain sebagai berikut.
a. Memiliki nilai-nilai dasar yang terwujud dan tercermin dalam
kebudayaan.
b. Mewujudkan arena komunikasi dan interaksi dalam kebudayaan.
c. Mempunyai anggota yang mengenal dirinya serta dikenal oleh
orang lain sebagai bagian dari satu kategori yang dibedakan
dengan anggota kelompok sosial yang lain.
Ketika seseorang yang menjadi bagian dari suku bangsa tertentu
mengadakan interaksi sosial maka akan tampak adanya simbolsimbol
atau karakter khusus yang digunakan untuk mengekspresikan
perilakunya sesuai dengan karakteristik suku bangsanya. Misalnya,
ciri-ciri fisik atau ras, gerakan-gerakan tubuh atau muka, simbol
kebudayaan, nilai-nilai budaya serta keyakinan keagamaan.
Seseorang yang dilahirkan sebagai anggota suatu suku bangsa sejak
dilahirkan harus hidup dengan berpedoman pada kebudayaan suku
bangsanya yang diwariskan oleh orang tua dan keluarganya secara
turun-temurun sesuai dengan konsepsi kebudayaan suku bangsa
tersebut.
Potensi Keberagaman Budaya di Indonesia 25

3. Primordialisme dan Politik Aliran
Secara tidak sadar masyarakat suatu suku bangsa akan mengembangkan
ikatan-ikatan yang bersifat primordial, yaitu loyalitas
berlebihan yang mengutamakan atau menonjolkan kepentingan
suatu kelompok agama, ras, daerah, atau keluarga tertentu.
Loyalitas yang berlebihan terhadap budaya subnasional tersebut
dapat mengancam integrasi bangsa karena primordialisme mengurangi
loyalitas warga negara pada budaya nasional dan negara
sehingga mengancam kedaulatan negara.
Kencenderungan ini timbul apabila setiap kelompok kultural
yang terorganisasi secara politik akan mengembangkan politik aliran
yang dapat mengancam persatuan bangsa. Selanjutnya, kelompokkelompok
masyarakat tersebut akan mengajukan tuntutan untuk
memperjuangkan kepentingan kelompoknya seperti tuntutan
pembagian sumber daya alam yang lebih seimbang antara pusat dan
daerah. Apabila tidak diakomodasi, tuntutan kelompok masyarakat
tersebut akan berkembang menjadi gerakan memisahkan diri suatu
kelompok masyarakat dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Misalnya, gerakan separatisme Aceh Merdeka.
Oleh karena itu, untuk menangkal gejala primordialisme, setiap
kelompok masyarakat harus mengembangkan budaya toleransi terhadap
budaya kelompok lainnya. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya
disintegrasi bangsa tanpa pengingkaran budaya sendiri.
Di dalam masyarakat majemuk terdapat
perbedaan suku bangsa, bahasa, ras, kasta,
agama, kedaerahan, tradisi budaya, dan adat
istiadat. Contoh kemajemukan tersebut
tercermin pada adanya komunitas keturunan
Tionghoa, India, dan penduduk pribumi di
Medan, Sumatra Utara. Perbedaan etnik,
suku bangsa, agama, dan budaya tersebut
membuat masyarakat Indonesia sulit
terintegrasi dalam satu kesatuan sosial.
awasan Kebhinekaan

Di dalam masyarakat majemuk,
anggotanya terbagi-bagi atas kelompok
sesuai identitas budaya masing-masing.
Kelompok yang loyal mengikuti kelompok
atau partai politik tertentu sesuai identitas
budaya mereka yang mengikat anggotanya
secara tertutup. Menurut Robuskha dan
Shepsle terdapat tiga ciri khas dalam masyarakat
majemuk, antara lain
1. keanekaragaman budaya berkembang
dalam kelompok budaya tertutup;
2. keanekaragaman budaya terorganisir
secara politik;
26 Khazanah Antropologi SMA 1

3. muncul masalah menonjolnya unsur etnik di dalam masyarakat.
      Keanekaragaman budaya dalam masyarakat terbentuk atas
dasar identitas budaya. Identitas budaya adalah kategori pembeda
berdasarkan nilai-nilai budaya antara satu kelompok dengan
kelompok lainnya. Hal itu terjadi karena tiap identitas kultural
memiliki sentimen primordial tertentu yang memengaruhi ikatan
politik, persilangan, dan interaksi sosial di antara kelompok etnik
di dalam masyarakat.
Di dalam masyarakat, kehidupan politik terorganisir menurut
kelompok etnik dan nilai-nilai subbudaya tertentu. Kelompok etnik
membentuk organisasi politik yang saling bersaing. Mereka
mengikuti dasar kepentingan kelompok etnik atau politik aliran dari
kelompok yang bersangkutan. Misalnya, dalam Pemilu 2004
terdapat banyak partai politik yang berlandaskan agama, suku,
bangsa, dan aliran, seperti PKS, PBB, PDS, PDIP, dan PAN.

4. Kemajemukan Indonesia dan Masalah Persatuan Nasional
       Unsur penting yang memengaruhi keanekaragaman budaya
masyarakat Indonesia adalah perbedaan anggota masyarakat
berdasarkan ras dan etnisitas. Perbedaan ras dan etnisitas sangat
penting dalam membentuk keanekaragaman sosial budaya
masyarakat majemuk sehingga masyarakat majemuk sering disebut
masyarakat multiras atau multietnik.
Menurut Robertson, ras merupakan pengelompokan manusia
berdasarkan ciri-ciri warna kulit dan fisik tubuh tertentu yang
diturunkan secara turun-temurun yang merupakan hasil interaksi
manusia dengan lingkungan hidup khusus mereka.
Kelompok etnik merupakan sejumlah besar orang yang
memandang diri dan dipandang oleh kelompok lain, memiliki
kesatuan budaya yang berbeda yang ditimbulkan oleh sifat-sifat
budaya masyarakat dan interaksi timbal balik secara terus-menerus.
Suatu anggota kelompok etnik memiliki peranan dan identitas yang
sama berdasarkan asal-usul, bahasa, agama, tradisi, dan perjalanan
hidup. Suatu kelompok etnik membedakan dirinya dengan kelompok
lain berdasarkan ciri-ciri budaya lokal yang mereka miliki.
Di Indonesia, terdapat beraneka ragam kelompok kesukuan
dipandang berdasarkan perbedaan etnik dan ras. Misalnya, antara
orang Jawa dengan orang Papua dan orang Maluku yang dibedakan
berdasarkan ras dan etnik. Namun, ada anggota kelompok kesukuan
yang dibedakan atas dasar etnik, seperti antara orang Batak dengan
orang Bali dan orang Jawa yang dibedakan atas dasar bahasa,
budaya, dan agama yang mereka anut.
Pada umumnya, orang akan sepintas memandang mereka
memiliki tradisi, pandangan hidup, dan adat istiadat yang berbeda
satu sama lain. Pemahaman tersebut penting untuk memahami gejala
Potensi Keberagaman Budaya di Indonesia 27
terjadinya sikap etnosentrisme. Sikap etnosentrisme adalah sikap
yang menggunakan pandangan dan cara hidup dari sudut pandangnya
sebagai tolok ukur untuk menilai kelompok lain.
Apabila tidak dikelola dengan baik, perbedaan budaya dan adat.

sejarah suku 


1. ACEH 

    Aceh (bahasa Belanda: Atchin atau Acheh, bahasa Inggris: Achin, bahasa Perancis: Achen atau Acheh, bahasa Arab: Asyi,bahasa Portugis: Achen atau Achem, bahasa Tionghoa: A-tsi atau Ache) yang sekarang dikenal sebagai provinsi Acehdiperkirakan memiliki substrat (lapis bawah) dari rumpun bahasa Mon-Khmer [3]dengan pembagian daerah bahasa lain seperti bagian selatan menggunakan bahasa Aneuk Jame sedangkan bagian Tengah, Tenggara, dan Timur menggunakan bahasa Gayo untuk bagian tenggara menggunakan bahasa Alas seterusnya bagian timur lebih ke timur lagi menggunakan bahasa Tamiang demikian dengan kelompok etnis Klut yang berada bagian selatan menggunakan bahasa Klut sedangkan di Simeulue menggunakan bahasa Simeulueakan tetapi masing-masing bahasa setempat tersebut dapat dibagi pula menjadi dialek. Bahasa Aceh, misalnya, adalah berbicara dengan sedikit perbedaan di Aceh Besar, di Pidie, dan di Aceh Utara. Demikian pula, dalam bahasa Gayo ada Gayo Lut, Gayo Deret, dan dialek Gayo Lues dan kelompok etnis lainnya Singkil yang berada bagian tenggara (Tanoh Alas) menggunakan bahasa Singkil. sumber sejarah lainnya dapat diperoleh antara lain seperti dari hikayat Aceh, hikayat rajah Aceh dan hikayat prang sabii yang berasal dari sejarah narasi yang kemudian umumnya ditulis dalam naskah-naskah aksara Jawi (Jawoe). Namun sebagaimana kelemahan darisejarah narasi yang berdasarkan pinutur ternyata menurut Prof. Ibrahim Alfian bahwa naskah Hikayat Perang Sabil mempunyai banyak versi dan satu dengan yang lain terdapat perbedaan demikian pula dengan naskah Hikayat Perang Sabil versi tahun 1710 yang berada di perpustakaan Universitas Leiden di negeri Belanda.
Rumpun bahasa Mon-Khmer:
Bahasa Brao, Bahasa Kreung, Bahasa Tampuan, Bahasa Bunong dan Bahasa Kui.
Paleografi rumpun bahasa Mon-Khmer.
Ada yang percaya bahwa asal-usul orang Aceh adalah "suku Mantir" (atau dalam bahasa Aceh:Mantee)[5] yang dikaitkan dengan "Mantera" di Malaka dan orang berbahasa Mon-Khmer.Menurut sumber sejarah narasi lainnya disebutkan bahwa terutama penduduk Aceh Besar tempat kediamannya di kampung Seumileuk yang juga disebut kampung Rumoh Dua Blaih (desa Rumoh 12), letaknya di atas Seulimeum antara kampung Jantho dengan Tangse. Seumileuk artinya dataran yang luas dan Mantir kemudian menyebar ke seluruh lembah Aceh tiga segi dan kemudian berpindah-pindah ke tempat-tempat lain.







2. BATAK

    Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini merupakan sebuah tema kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli dan Sumatera Timur, di Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah: Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing.
Saat ini pada umumnya orang Batak menganut agama Kristen Protestan dan Islam Sunni. Tetapi ada pula yang menganut kepercayaan tadisional yakni: tradisi Malim dan juga menganut kepercayaan animisme (disebut Sipelebegu atau Parbegu), walaupun kini jumlah penganut kedua ajaran ini sudah semakin berkurang.Orang Batak adalah penutur bahasa Austronesia namun tidak diketahui kapan nenek moyang orang Batak pertama kali bermukim di Tapanuli dan Sumatera Timur. Bahasa dan bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa orang yang berbahasa Austronesia dariTaiwan telah berpindah ke wilayah Filipina dan Indonesia sekitar 2.500 tahun lalu, yaitu di zaman batu muda (Neolitikum). Karena hingga sekarang belum ada artefakNeolitikum (Zaman Batu Muda) yang ditemukan di wilayah Batak maka dapat diduga bahwa nenek moyang Batak baru bermigrasi ke Sumatera Utara di zaman logam. Pada abad ke-6, pedagang-pedagang Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara. Mereka berdagang kapur Barus yang diusahakan oleh petani-petani di pedalaman. Kapur Barus dari tanah Batak bermutu tinggi sehingga menjadi salah satu komoditas ekspor di samping kemenyan. Pada abad ke-10, Barus diserang oleh Sriwijaya. Hal ini menyebabkan terusirnya pedagang-pedagang Tamil dari pesisir Sumatera. Pada masa-masa berikutnya, perdagangan kapur Barus mulai banyak dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatera Utara. Koloni-koloni mereka terbentang dari Barus, Sorkam, hinggaNatal. Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini merupakan sebuah tema kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli dan Sumatera Timur, di Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah: Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing.
Mayoritas orang Batak menganut agama Kristen dan sisanya beragama Islam. Tetapi ada pula yang menganut agama Malim dan juga menganut kepercayaan animisme (disebut Sipelebegu atau Parbegu), walaupun kini jumlah penganut kedua ajaran ini sudah semakin berkurang.





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar